Imposible

 Imposible


Langit sore yang mendung ku terus melaju dengan motor matik ku. Jalan berkelok yang dipagari dengan rimbunan dedaunan dari pohon Sengon yang berada di kiri kanan Jalan pulang dari kampus. Ku lalui perjumpaan pertamaku dengannya di tempat yang sungguh penuh berkah dan cinta dari-Nya. Dikesempatan yang hampir terlewatkan, entah angin apa yang membawaku bergerak mundur setelah hujan mengguyur. Meski aku telah menunggu lama tapi langkahku kembali ke Masjid itu hingga aku berjumpa dengan Laki-laki itu.

“Assalamualaiukum, benarkah kamu Wanita yang menanyakanku sebagai Anwar teman SD yang kau Cari?” Sapa Laki-laki itu dengan to the poin. 

“Waalaikumsalam. Benar Aku Dita. Sebelumnya maaf ku inginkan kau datang kesini agar aku dapat memastikan keadaanmu dan sebenarnya kau Anwar atau bukan. Anwar teman lama SD ku yang mengundangku untuk Reoni. Aku Baru menyelesaikan Pendidikanku di Yogyakarta sehingga aku lama tak punya Komunikasi dengan kawan Desa.” Terus Dita

“Tampaknya kau salah Orang, Aku Wawan Bukan Anwar yang kau Maksud mungkin Kau Salah mencari informasi.”

“Ya Tuan, Sebelumnya Maaf aku telah salah orang. Sebagai permintaan maafku tolong terima sedikit Makanan dari Aku untuk Ibu Tuan.”

“Tidak apa-apa Nona justru aku senang bisa mengenal Perempuan seperti Nona. Terimakasih Sop Ayamnya. Kapan saja Nona boleh Main Ke rumahku. Ini Kartu Namaku disitu ada alamat rumahku simpan saja kalau suatu saat Nona membutuhkanku”.

Pagi Hari menyapa dengan kokok ayam yang gagahnya. Tersorot matahari pagi dari balik tirai yang Mama buka di Jendela kamarku.

“Dita Bangun Sayang, Kau itu kebiasaan. Kalau sudah bangun untuk solat subuh jangan tidur lagi. Ayo bangun dan olah raga. Kamu makin hari makin buncit tuh perutnya sayang. Ayo Mama temani.” Sembari menarik kedua tangan Dita.

Usai olahraga aku bergegas mandi dan berangkat ke kampus. Sesampai kampus aku melakukan aktivitas belajarku seperti biasa mulai dari ngetik, presentasi sampai menghadap dosen. Aku yang tiap hari disibukkan dengan rsume dan tugas-tugas lainnya membuat badan terasa lelah dan ingin rasanya refreshing.

“tililililililit.. “ Hpku berbunyi dan rupanya wawan menelfonku namun ku tak angkat karena aku sedang menyelesaikan tugas. Lalu aku telfon balik pada Malam harinya.

“Assalamualaikum Wawan, tadi Sore kau meneleponku ya? Ada apa?” Tanya Dita 

“Waalaikumsalam Dit, Emmm… Aku ingin mengajakmu Kamping bersama. Kamu mau tidak? Kita ditemani oleh kru pendaki kok tenang saja. Tempatnya di Kebun The, waktunya besok ini, mumpung Sabtu kamu tidak ada Kuliah Kan?”

“OK” Jawab dita Sumringah. “Yes Wawan Mengajaku kamping berarti aku bisa bersamanya dan juga asik bersama kawan kawan lain. Tapi apa mungkin dibolehin Mama. Emmmm tapi Kalau Kamping ga Masalah deh. Aku yakin mama boleh” Gumam senang rasa hati menjadi satu dalam benak Dita.

Keesokan harinya Dita bersama Wawan bergegas ke Kebun Teh yang jaraknya tak begitu jauh dari rumah mereka. Masih dalam kota. Keseruan Mereka berlangsung begitu Romantis. Batu batu putih yang berceceran disetiap tepi jalan dan rerindangnya pohon jati yang berdiri tegak serta bangunan Vila vila tua yang Klasik menghangatkan suasana yang bercuaca dingin dikala itu. Aku dan dia dalam rinai cerita insan yang seolah saling mencinta yang membuat suasana terasa hangat. Aku berjalan menyusuri tebing menuju puncak bersama Wawan ditemani oleh tim pendaki yang lainnya. Keseruan kami semakin asyik ditemani dengan suasana yang ramah oleh sapaan penduduk Pegunungan. Aku dan dia semakin mengerti seiring langkah yang kita tapaki selama perjalanan kepuncak. Kami saling berbagi bekal makanan dan minuman yang kami bawa.

Kita bermalam dintenda bersama Kru Pendaki. Aku di tenda perempuan bersama teman Perempuanku yaitu Risa, Sirius dan Sinai. Sedangkan Wawan bersama dengan Kawannya di tenda putra.Di malam harinya kami semua makan bersama dengan ayam barbeque yang kami buat. Di temani Gitar dan api unggun yang semakin menghangatkan suasana malam. Dimalam itu juga Ia mengutarakan perasaannya padaku. 

***

Aku sudah mulai ada rasa semenjak pertemuan pertama di masjid itu. Sorot matanya mencerminkan pribadinya yang begitu lembut dan sabar. Meski sering kali aku marah padanya tapi dia selalu menanggapinya dengan kepala dingin. Dia tanamkan cinta dengan kesabaran dan perhatiannya. Menerima keadaanku yang agak pemarah dan sedikit malas hee 

Kuarungi hari-hari dengannya, cinta jarang bertemu karena terhalang oleh suatu hal. Meski masih satu kota namun susah bagi kami untuk berjumpa kembali. Aku dan dirinya berbeda satus sosial.  Aku dan dirinya berbeda Kebiasaan. Aku dan dia bersatu karena rasa sayang bukan sebuah alibi kedudukan. Aku dan dirinya berjuang menitik asa menjemput masa depan. Namun lika-liku masalah membuat kami sering berselisih. Reranting tak kan kembali pada pohonnya jika ia telah terjatuh. Rasa pedih yang tertoreh karena keharusan yang berkata lain tak bisa melepoh dinding hati yang telah tertancap paku asmara.

Restu orang tua adalah hal yang terutama namun ini tak dijumpai oleh kami yang saling mencinta. Hanya waktu yang bisa menjawab setiap tanya jiwa yang kian meradang. And ending is The impossible… good nice for all your heart together with your darling.  

***


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Shadow

Cerpen-41 Days

Back to blog