Cerpen-Klise
Klise Malam begitu hening, kini hanya aku dan secarik kertas dan sebuah pena. Aku terus menulis. Aku ingin mencoba menaskahkan sekenario yang telah Tuhan berikan kepada sosok insan yang telah menanamka cinta di sanubarinya . Tak ada satu orangpun yang tahu akan hal ini terkecuali sahabat-sahabat dekatnya. Aku sebagai satu diantara sahabatnya masih tak percaya. Apakah ini bukti dari “ Fi’lu Kulii Mumkinin Autarkuhu”, Tuhan berkehendak melakuka apa yang Dia kehendak . Ketika fajar telah merekah tak ada sepenggal kalimat untuk ia menolak takdir yang telah Tuha kehendaki. Dalam doa yang mengiringi setiap langkahnya, ia masih tetap bertahan hingga detik ini Demi mencari ibrah dari sang Guru. Goresan pena yang memberi makna untuk sebuah tragedi. Waktu itu sebut saja sahabatku dengan “Syahwa” sedang asyik menulis di balkon pondok pesantren. Dia telah 7 tahun menyantri di pondok pesantren Al-Mirza, bersamaku. Tertulis sebuah curahan hati di lembaran buku dayre sa...