Cerpen-Klise

 Klise

Malam begitu hening, kini hanya aku dan secarik kertas dan sebuah pena. Aku terus menulis. Aku ingin mencoba menaskahkan sekenario yang telah Tuhan berikan kepada sosok insan yang telah menanamka cinta di sanubarinya . 

Tak ada satu orangpun yang tahu akan hal ini terkecuali sahabat-sahabat dekatnya. Aku sebagai satu diantara sahabatnya masih tak percaya. Apakah ini bukti dari “ Fi’lu Kulii Mumkinin Autarkuhu”, Tuhan berkehendak melakuka apa yang Dia kehendak . 

Ketika fajar telah merekah tak ada sepenggal kalimat untuk ia menolak takdir yang telah Tuha kehendaki. Dalam doa yang mengiringi setiap langkahnya, ia masih tetap bertahan hingga detik ini Demi mencari ibrah dari sang Guru. 

Goresan pena yang memberi makna untuk sebuah tragedi. Waktu itu sebut saja sahabatku dengan “Syahwa” sedang asyik menulis di balkon pondok pesantren. Dia telah 7 tahun menyantri di pondok pesantren Al-Mirza, bersamaku. Tertulis sebuah curahan hati di lembaran buku dayre sahabatku.

Dear dayree

Hari yang cerah adalah awal yamg indah untuk aku mutholaah dan mencari pengalaman di pondok terecinta. Walau di hatiku ini memang tak bisa ku pungkiri bahwa aku sangat mencintainya. Namun aku akan bersungguh-sungguh menitik asa demi masa depanku karena aku yakin akan datang cinta yang hakiki di atas cinta yang sedang aku rasakan. 

Syahwa Maratu Zaenab

Setelah ia menulis sepenggal kata, ia tutup buku diarinya dan ia mulai melangkahkan kakinya menuju pusat kegiatan pesantren

“Audzubillah Himinasysyaiton Nirrojim…” terdengar suara ta’awudz yang menggemah dari sudut masjid yang berdiri megah di tengah pondok.Langkah kakinya terhrenti di antrean sorogan. Ia mulai mengaji sementara waktu terus berjalan .

Suasana yang bernuansa sejuk dan menggetarkan hati itulah ungkapan hatiku ketik aku melihat langkah yang penuh dengan keyakinan, itulah sahabatku. Aku sungguh mengaguminya.

Sebenarnya akupun tidak tahu apa yang aku lihat ini berarti bagiku atau tidak. Mungkin ini kisah yang biasa terjadi. Bahkan mu7ngkin jika ada yang membaca tulisanku, orang-orang akan berpendapat “Alah, ini mah ahal boiasa , udah pasaran di novel-novel cinta.

Namun bagiku hal ini adalah hal yang baru. Dan setelah ku renungi ini adalah pelajaran besar 

Kisah ini berawal dari cita-cita kami yang ingin masuk ke PTN yang sama. Dia kakak kelasku sewaktu aku duduk di bangku SMA. Dia berhenti mengejar pendidikannya karena factor biaya namun hal itu tidak mengurangi rasa semangatnya untuk meneruskan kuliah. Dia memutuskan untuk mencari biaya kuliah sendiri. Hingga ia menyantri sembari bekerja. Sepeser demi sepeser rupiah ia kumpulkan. Ditabungkannya ke dalam celengan yang terbuat dari bamboo. 5  bulan setelah ia bekerja. Sebuah peristiwa yang tidak pernah ia inginkan terjadi. Ayahnya masuk rumah sakit dan difonis leokimia stadium akhir. Ibunyapun cemas dan bingung karena tak seperakpun memegang uang untuk membiayai perawatan rumah sakit ayahnya. Akhirnya sahabatku memberikan semua tabungan yang ia punya untuk membiayai pengobatan ayahnya. Selang waktu 3 hari, ayahnya dikabarkan telah tiada ayahnya telah  meninggalkan dia dan ibunya untuk selamanya. Hal yang memilukan telah menimpa sahabatku. Semoga dia diberi kekuatan.

“ Ya seen Wal Quranil hakim…” terdengar suara orang-orang mengaji untuk Almarhum

“Mbak Syahwa, aku ikut berbela sungkawa. Semoga Allah selalu memberi ketabahan kepada Mbak dan juga Keluarga” Ucapku padanya saat aku datang melayat 

“iya Mawaddah insya Allah aku akan belajar ikhlas menerima takdir yang telah Tuhan berikan.

3 hari, 1 minggu, 1 bulan hingga 40 hari telah berlalu kesedihan yang ada di mata Syahwa masih terpatri kuat. Akan tetapi ketegaran hatinya telah berhasil membawa dirinya untuk tetap seperti Syahwa yang aku kenal gadis yang tegar dan penuh semangat 

Ia kembali ke pondok dan memulai untuk mengaji mutolaah dan mencari pengalaman, ia masuk ke pondok aku menyambutnya dengan hangatnya rasa rinduku padanya

“Syahwa, akhirnya kau kembali lagi, aku sangat merindukanmu “

Sontak aku memeluknya tepat dilangkah pertamanya masuk ke kamar kami.

Hari-haripun terus berjalan Syahwa kembali bekerja dan memulainya kembali dari nol. Aku salut dengan perjuangannya demi Pendidikan . Hingga dibukalah penerimaan Mahasiswa baru sementara biaya kuliah telah tergenggam di tangannya. Kamipun mengikuti SBMPTN, dan Alhamdulillah kami berdua lolos dan kami segera mendaftar ke PTN. Hingga tibalah pengumuman hasil seleksi penerimaan mahasiswa baru dan namaku dan Syahwa tertera jelas diterima sebagai mahasiswa baru. Namun di hari itu juga aku tersontak kaget ketika akau menoleh setelah melihat hasil pengumuman yang tertempel di dinding kampus dekat parkiran motor Syahwa telah tergeletak dan berlumuran darah dikeningnya aku teriak sekuat tenaga sembari melihat mobil yang melaju kencang dengan plat nomor AB 3302 Y. lalu mahasiswa-mahasiswa yang ada di sekitar TKP menghampiriku dan segera menolongku untuk membawa Syahwa ke Rumah sakit terdekat. Selang waktu 2 jam Syahwa pulih. Namun ironisnya dia hanya diam dan memandangku sembari meneteskan air mata. Takdir kembali berbicara dia BISU …

Kini aku yang meneteskan air mata. Tak kjuat hati ini melohat keadaannnya. 1 minggu telah berlalu dimana aku tetap menemaninya kini aku tak bisa lagi mendengarkan suara syair suci yang dia lantunkan setiap sore. Namun aku percaya akan Inna maal usriyus ro, bahwa setiap musibah diiringi kemudahan pula. 

dua bulan telah berlalu ia tetap istiqamah dalam ibadahnya dipondok pesantren namun sayangnya dia tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Hal ini tak dapat membuatnya putus asa. Pada senin, 20 juli 2020, hari itu adalah hari yang lebih mengejutkan untuk Syahwa. Akupun tak pernah menyangka akan hal ini. Di saat dia sedang makan siang tiba-tiba ia mendapat tamu seorang laki-laki berbaju koko warna putih dan bersarungkan warna hijau bermotif kotak-kotak. 

Aku mengamati laki-laki itu yang sedang berbincang dengan Syahwa dan pengurus pondok pesantren dari belakang satir pembatas ruang kantor dan aula santri. Mereka terlihat membahas suatu hal yang cukup serius. Lalu setelah beberapa saat kemudian Syahwa datang membawa kabar bahwa laki-laki itu akan segera meminangnya. Laki-laki itu tak lain adalah Mustofa anak kedua dari Pak Kyai Ali Mustofa pengasuh pondok pesantren Al-Mirza. Gus Mustofa adala laki-laki yang sering ia tuliskan di buku diarinya. Hingga muncul kabar bahwa nanti tanggal 2 Agustus 2020 insya Allah akan dilaksanakan akad nikah. 

Sebuah sekenario Tuhan yang begitu berliku, kini akan jadi lebih mengerti bahwa kita hidup tinggal menjalankan peran kita karena kita hidup di dalam sebuah sekenario yang telah tertulis rapih di lauh Mahfud. Aku harus siap dengan apapun takdir yang akan terjadi maupun yang telah berlalu.

Tragedi yang telah lewat. Aku tak akan melupkan ini tak pernah sebelumnya terbesit akan hal ini. Ketika hanya waktu yang bisa menjawab adakah hal lain yang bnisa kita lakukan kecuali berdoa? Wallahu a’lam Bissowwab….   

Semoga Tuhan senantiasa menguatkan setiap hambanya terutama kamu Syahwa sahabatku… Salam bahagia untukmu Syahwa. Semoga pernikahanmu kelak akan menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah… Amin

So buat lo semua jangan berhenti berdoa dan jangan mudah putus asa “La Tahzan Innallaha Ma ana …”

***

Biografi Narasi

Dian Nurmawaddah, lahir pada tanggal 20 Juli 1995 di Pemalang, Jawa Tengah. Tercatat sebagai Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Pekalongan. Jejak bisa di temukan di akun instagram @Dian Chikichik Mbem Mbem.Wattpad: Dian ChikChik Mbem Mbem.blog: Literasi Dian

"Banyak kata bijak yang terpenting bukan hanya kata"- Salam Literasi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Shadow

Cerpen-41 Days

Back to blog