Cerpen-41 Days

 


Keajaiban yang menyuguhkan simponi hati menyambut ramadhan tercurahkan oleh paras tiga pemuda  pencuri nikmat manisnya muhasabah. Tertuangkan dalam kitab tua bertuliskan pegon, mengetuk hati pemuda untuk mencari makna disetiap bait syair jawa. Ibrah dari sejarah Guru yang tidak kunjung padam membakar gelora hati nurani untuk menyingkap kamuflase kehidupan. Awal kisah 41 hari yang sangat berarti …

“Tut tut tut…! Angkat bos ! sudah jam 2 lebih seperempat. Perjalanan rumah kau kesini tak mungkin kau tempuh 1 menit” Ucap Udin sembari menyentuh layar telefon genggamnya.

“Apa bro, Aku dengar kau menelefonku. Sekarang aku sedang mencari kunci mobilku. Kau sudah kabari Idin belum?” Toyo balas telefon dari Udin dan berharap Idin akan datang dalam Tahajud bersama di malam pertama mereka.

Perjalanan cerita mereka mulai terasa ketika malam ke-13 tepat malam ramadhan pertama yang harus lebih menyiapkan tenaga ekstra sehingga dapat menahan mata agar tak tertidur hingga subuh datang. 

“Allahummsa Sholli wa salim ala sayyidina Muhammad…!” lirih dzikir Idin diantara yang lain kemudian tiba tiba terhenti dan Idin berkata”Hai, Tadi aku sudah membaca sholawat belum?”

“Kau mengantuk hahahaha, Kau baru saja selesai membaca sholawat” sahut Toyo dengan tawa.

“Ayo lanjut lagi agar rangkaian tawasul ini segera selesai sehingga kita kebagian waktu sahur” Ajak Udin

Setelah mereka semua melaksanakan Tahjud dan Tawasul, tiba saatnya mereka makan sahur. Setelah sirine imsak berbunyi mereka bergegas mengambil wudlu untuk persiapan sholat subuh berjamaah.

“Adzan Bos!” perintah Idin, kemudian Idin pergi meninggalkjan tempat pengimaman menuju tempat wudlu.

“Ini aku yang Adzan? Baiklah… Allahu akbar Allahu akbar” Toyo beradzan dengan hidmat pada saat lafadz “Assholatu khoirum minan naum ia mengumandangkan “ Assholatuhaoiru minannauuu” sontak kedua temannya kaget. Selesai Adzan Udin menyapa Toyo dan berkata

“Bos, Minan naum bukan nauuu, naum itu artinya tidur. Hahaha kau ini membuatku tak jadi tidur padahal ku sangat mengantuk. Mendengar lafadz adzan yang salah aku jadi tidak mengantuk hahaha”

“Oh berarti Naum… Ok” Toyo merespon dengan baik. Dia Antusias belajar dan tidak sedikitpun malu. Sungguh hal yang mengagumkan.

“Iya, Naum bukan Nauuu, hari ini kau baru tahu lafadz adzan subuh yang benar. Tidak ada yang tahu jika suatu saat kau bisa menjadi Muadzin di Masjid Jami tempat tinggalmu. Jangan berhenti berlatih Adzan.” Sahut Idin yang datang seusai wudlu.

Kisah Toyo yang antusias belajar dasar-dasar agama di usia bukan lagi anak anak adalah hal yang sangat terasa indah dinikmati apabila dekat dengan dia dan kedua kawannya. Hijrah adalah hal yang di alami Toyo. Toyo sosok yang lugu, ceria dan di cintai orang-orang disekitarnya terutama kedua kawannya. 

Lain cerita menarik dari Idin sosok penyabar yang tetap tegar meski ujian hidupnya tak kunjung selesai. Ibunya yang sedang sakit keras, Idin terus berusaha merawat Ibunya. Setiap pagi sebelum ia berangkat bekerja ia basuh lengan ibunya yang berlumur nanah karena sakit diabetes yang diderita. 

Tak kalah menarik perjuangan Udin yang membanting tulang demi menghidupi kedua adiknya yang sudah yatim piatu. Udin belanja sayur, memasak, menyapu, mengepel, merawat kedua adiknya dan semua pekerja lainnya. Dia adalah pemuda tangguh

Ketiganya sosok the miracle of islam di era new normal. Hiruk pikuk aktivitas setiap hari tidak membuat lupa mereka akan pentingnya menjaga kebersamaan dalam ibadah.

Pada saat setelah sholat subuh, tiba-tiba “Plak, Bos kau ini ruku’ yang benar. Luruskan kaki agar membentuk sudut 90 derajat” tegur Idin sembari mencontohkan. Urat kaki Toyo mulai lentur dengan perlahan.

“ya, aku sudah berusaha”sahut Toyo.

Banyak kisah disetiap harinya selama menjalankan Tahajud bersama. Mereka gerakkan langkah tiap pagi ke rumah Udin meski terpaut jarak dan siap siaga melawan rasa kantuk. 

Dalam jeda waktu antara makan sahur menunggu imsak. Mereka terbiasa bercakap-cakap dengan perbincangan arah perjalanan mereka menempuh 41 malam bertahajud tanpa henti. Dalam kitab tua itu diperintahkan suatu amalan yaitu Tahajud dan Tawasul Qolbun Salim yang tiada putus hingga malam ke 41 untuk menempuh jalan belajar bertaubat yang diharapkan dihari seterusnya bisa istiqomah dalam bertawakal.

Sajak doa yang mengalir membuka hati dalam kesederhanaan memetik khasanah di setiap kesempatan muhasabah yang terdentumkan dalam degup jiwa tiga pemuda yang di dekati Allah. Urat nadi basah oleh nikmatnya berbuka. Jiwa kosong musnah oleh hangatnya sapaan kebaikan yang mengalir didalam relung hati. Sukma menjemput asa dalam tiap celah waktu mengingat-Nya. Meski hanya celah waktu namun kasihsayang-Nya tak terbatas hingga menyembuhkan duka lara dari sekelumit kekeruhan hati. 

"Idin, bangun Din, putaran tasbih kau sampai berapa?" kaget Toyo yang iseng meledek Idin.

"Kau, seperti tak tau nikmatnya mengantuk. Memang ini sudah jam berapa kau sudah bersiap pulang?" Idin terbangun dengan kaget.

"Hai, kalian itu nikmat dari gusti Allah itu wajib disyukuri, dzikir terlelap tidur berarti tandanya ikhlas karena lupa putaran tasbih ke berapa" sahut Udin.

"Hei Udin, yang namanya ikhlas itu adanya di dalam hati mana bisa kita menilai keihlasan seseorang, ya ga?" jawab Toyo sembari menatap Idin

"Bukan begitu, kita itu belajar ikhlas, tak ada sesuatu yang instan. semua berproses meski awal terpaksa lama lama terbiasa, meski tertidur amalan sebelum tidur sudah tercatat oleh malaikat" Jelas Udin dengan getol

"Kalian dapat dari mana kata bijak seperti itu?" Tanya Idin

"Bukan kah kau pernah menyampaikan bahwa dalam kitab tua itu ada 9 perkara yg ditempuh seorang murid salah satunya belajar ikhlas." Udin menyambung obrolan mereka dengan mengindahkan tuntunan Guru mereka yang mereka tekuni.

Keasyikan mereka dengan celotehan yang keluar dari mulut mereka menambah suasana asik ramadhan di waktu petang. Terpancar kebahagiaan yang keluar dari hati membumbui hambarnya rasa yang haus asupan jiwa. Tatkala kegundahan melanda tidak ada hal yang lebih nikmat selain mencari obat hati. Salah satunya berkumpul dengan orang solih.

Tanda-tanda keajaiban itu mulai muncul mendengar kabar kesembuhan ibu Idin, Kesabarannya merawat ibunya menghantarkan Idin menjemput kebahagiaan akan kesembuhan ibunya. Hal baik lain lagi melalui kerja keras Idin, ia dapat membawa ibunya berjumpa dengan Makam Rosulullah. Dia sanggup mewujudkan doa yang tiap malam dipanjatkan oleh ibunya. Berita baik lain yaitu terdengar kabar  kejuaraan lomba Muadzin yang diikuti Toyo hingga tingkat Kota tempat tinggal mereka dan Toyo dipercaya menjadi Muadzin Masjid Agung. Sama halnya dengan Udin yang mana kesuksesan telah Udin raih, dengan  menggapai jerih payahnya hingga menjadi donator terbesar di Yayasan Dewi Masyitoh dan Yayasan-yayasan yatim piatu lainnya di kotanya.

Hikmah istemewa yang tak terlupa untuk menggapai ampunan di bulan Ramadhan… Aghfirlana Ya Allah, Iftahlana Ya Allah, Tsabit Imanana ila yaumil wafa…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Shadow

Back to blog