Shadow
Dibalik pintu bayanganmu datang mengganggu pikiranku sampai tak habis kataku menceritakan dirimu di hatiku. Aku tak mengerti mengapa ini semua terjadi padaku. Begitu sulitku melupakanmu hingga sampai kini aku memikirkan dirimu, apakah kau benar-benar melupakanku. Setiapku buka dayreku 7 tahun silam yang telah berdebu, namamu tetap tertulis dalam setiap ceritaku. Seolah kau menemaniku disetiap hariku. Hati ini tak memiliki daya untuk mengahapus harapanmu. Meski hanya sebatas harapan yang tak tersampaikan, tetapi rasa ini yang kian mendalam yang membuatku takut jatuh cinta lagi. Namun ketika hati ini sadar bahwa sanubari ini milik Tuhan Yang Maha Memberi Kasih Sayang dan mudah bagi-Nya ‘tuk membolak balikan hati, maka hanya iman yang sanggup mengatasi dilema yang melanda.
***
Di balik pintu pada 7 tahun lalu …
“Hahahah kalah…. Tiga kosong ye!” terdengar tawa anak-anak gadis bermain bola bekel di teras depan kelas 5 SD Mutiara. Suasana gembira yang hanya mengenal belajar dan bermain.
“Sekarang giliranmu, kau berani tidak bermain duel bersamanya” Ucap Indra pada Ade. Di SD Mutiara semua murid antusias bermain bola bekel sekalipun murid laki-laki. Berbeda dengan zaman sekarang yang lebih antusias pada gawai mereka.
“Okey, siapa takut dengan gadis gendut itu. Apa hebatnya sih si rambut Dora” Tantang Ade menatapku.
“Siapa yang mengejekku rambut Dora? Oh Ade Wiguna anak Pak Sam. Ayo main kalau kau kalah jangan duduk di depan lagi.” Tantangku padanya
Ketika suasana bermain semakin menegang. Bel masuk berbunyi. Suara Wali Kelas yang terdengar keras seolah memecahkan gendang telinga menghantam mood kami yang asyik bermain.
“Selamat pagi anak-anak. Hari ini kita akan belajar Bahasa Indonesia. Sebelum itu ibu akan menyampaikan kabar...”
“tok, tok tok! Permisi…”
Sebelum ibu Guru menyelesaiakan kabar yang akan disampaikan terdengar ketokan pintu dari luar kelas yaitu kedatangan Kak Wijaya yang tak lain kakak dari Ade datang untuk meminta Ade pulang pada saat itu juga. Kemudian Ade pulang dengan izin bu guru. Setelah itu ibu Guru melanjutkan pengumumannya
“Pengumuman yang akan ibu sampaikan bahwa sebelum kakak ade menjemputnya ibu sempat berbincang diluar bahwa teman kita Ade Wiguna sedang terkena musibah mari kita doakan atas berpulangnya Ibundanya ke Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Berdoa sesuai keprcayaan masing-masing dimulai.”
Suasana berkabung seketika menyelimuti seisi ruang kelas. Ade Wiguna kini harus menerima kenyataan pahit di usianya yang masih kecil. Ayahnya pun telah tiada sejak ia kelas dua SD.
Semenjak itulah aku mulai kasihan padanya. Aku sering membagi bekal makananku padanya. kami sering bermain lompat tali, cemak mingkem, rembet uler sampai permaian tradisional gobak sodor sewaktu istirahat, namun semenjak kepergian ibunya, Ade berbeda dari sebelumnya yang biasanya setiap hari bercanda sampai menantangku bermain bahkan sampai meledeku habis habisan, kini dia sering berdiam duduk di pojok kelas. Dia jarang berbicara dengan teman-temannya.
Satu tahun kemudian…
Tepat kelulusan Sekolah Dasar di depan mata. Saatnya pengumuman peringkat. Suara master of ceremony perpisahan terdengar jelas. “ Saatnya kita membacakan pengumuman , peringkat ketiga di raih oleh Handri Santausa, Peringkat Kedua diraih oleh Nuri Mawaddah. Dan peringkat pertama di raih oleh Ade Wiguna. Selamat untuk para juara kelulusan”
“Adee… Selamat ya, kamu peringkat satu. Sontak aku terkejut dan menghampirinya.”
Namun hanya senyum kecil yang ia berikan padaku. Ia masih belum terlihat ceria sepenuhnya meski ia telah mendapat apa yang diimpikan teman-teman. Hati siapa yang tega melihat yatim piatu secerdas dia naik panggung sendiri dan memberi sambutan. Semua terisak tangis dan lari memeluknya naik ke atas panggung.
Sebulan setelah pengumuman kelulusan. Jalanan ramai dengan anak anak yang berlalu lalang untuk berangkat menggunakan pakaian seragam putih dongker. Keramaian candaan anak-anak membuyarkan lamunanku tentang Ade yang telah pergi ke Pesantren Sirampog. Bagaimana kabarnya. Bagaimana aku dapat bermain dengannya lagi. satu kabarpun tak ku dapat tentangnya.
Hari-hariku di SMP tak semanis masa SD. Aku yang sibuk dengan kegiatan OSIS hingga aku bosan bermain. Bosan dengan seuasana lapangan di taman sebelah rumah yang kini tak ada jejak kakinya bermain lompat tali. Tak ada gacon oglong yang biasanya ia sematkan di atas tanah pekarangan rumah.
3 Tahun kemudian aku berhasil masuk ke sekolah favorit di Yogyakarta. Aku dikirim ke Pesantren oleh ayahku agar aku dapat menimba ilmu yang lebih mendalam kemudian tepat pada 14 November 2017 ayahku berpulang. Ayahku tak dapat menemaniku ketika khataman Quran bi Nadri nanti. Kini aku mulai menegrti apa yang di rasakan Ade. Peristiwa kepergian ayahku mengingatkan Kisah Ade yang membuatku sangat terinspirasi dan merasa tegar.
3 tahun berlalu, tepat 14 Juni 2019. Bagaikan tersapa oleh angin malam yang di temani bulan sabit, ia datang ke pondoku dalam rangka study banding. Ia yang kini berbeda. Ia yang kini tak mengerti keberadaanku dan aku betul menjumpainya dari balik tirai. Ia tampak cerah ceria dan bersemangat mendampingi Gus Alan dari Sirampog. Dia sudah lulus Madrasah tingkat Ulya. Dia telah menjadi sosok pemuda tampan yang seolah tak pernah ku jumpai sebelumnya. Namun satu yang membuatku masih ingat. Cara ia menatap. Matanya yang sayup tak berubah. Astaghfirullah apa yang sedang terjadi padaku. Aku takut rasa ini datang dan menggangguku lagi. Mengganggu hati yang cemas oleh rasa yang belum sempat ku ungkapkan. Aku masih tak percaya ia datang ke pondokku. Setelah usai studi banding aku berusaha mengejarnya untuk menanyakan kabarnya. Aku hanya ingin menjalin silaturahmi lagi setelah sekian lama tak berjumpa. Namun langkahku tak sampai pada gerbang pondok ia sudah naik mobil yang berlaju kea arah selatan jalan raya. Aku kehilangan jejaknya lagi. Aku bertanya pada pengurus pondok “Mba Erna, tadi yang datang dari pesantren mana bolehkah saya lihat identitas madrasahnya.” Tanyaku.
“Silahkan, dia Gus Alan dari Sirampog, Tegal bersama pendampingnya Ade Wiguna” jawab mba Erna. Nama Ade Wiguna terdengar jelas di telingaku. Iya betul dia Ade Wiguna teman masa kecilku.
1 bulan kemudian
Ketika Susana pesantren sedang ramai oleh gelak tawa anak pesantren bercanda seusai sorogan. Terdengar mikrofon berbunyi
“Mba Erna pengurus pikantuk tamu, sepindah maleh mba Erna pengurus pikantuk Tamu.” (Mba Erna Pengurus mendapat tamu. Sekali lagi mba Erna pengurus mendapat tamu)
Tak lama mba Erna menuju ke kantor untuk menemui tamunya. Setelah usai aku menanyakannya pada mba Erna tamu siapa yang datang?, mengapa bukan orang yang pernah menamu? Kabar itu aku lihat langsung pada kertas undangan bahwa pengurus ponpes diberi undangan pernikahan Gus Anan dengan Neng Masruroh. Neng Masruroh adalah putrid kayiku sewaktu aku mengaji di Ponpes Addarain dulu. Tempat dimana aku di asuh oleh kedua orang tuanya yang begitu baik menddik dan sabar merawatku sejak lulus SD. Seketika itu aku berinesiatif untuk mewakili datang ke acara pernikahan itu, dengan begitu aku dapat bertemu Ade.
Aku mengharapkannya lagi dalam hari penting itu. Semoga ia masih mengingatku. Aku akan beranikan diri aku untuk mengungkapkan rasa yang selama bertahun-tahun ku pendam.
Sesampai di acara itu terlihat Neng Masruroh berias dengan cantik sekali namun yang saya penasaran mengapa raut muka Neng masrusoh tampak seperti tidak senang dan matanyapun berkaca. Kemudian aku menyapanya “Assalamualaikum Neng Masruroh, selamat ya hari ini kau akan melaksanakan akad bersama Gus Alan.” Ku hibur Dia siapa tahu kesedihannya hanya karena tak bisa menahan gejolak hati. Namun setelah sesuatu keluar dari mulutnya. Ini sangat ,mengagetkan kan membuatku terjerat pada rasa sakit yang teramat dalam. Neng Masruroh mengatakan “Sebenarnya aku memilih Ade Wiguna untuk mendampingiku tapi Gus Alan tidak mengkehendaki itu”
Hujan air mata seketika membasahi pipi dan hatiku hancur berkeping mendengar perkataan Neng Masruroh yang sangat aku hormati. Aku memutuskan untuk mengurungkan niatku mengungkapakan rasaku dan memperjuangkan Neng Masruroh agar mendapat cintanya.
Begitu terkejutnya aku setelah apa yang aku lakukan. Aku tidak bisa memaafkan diriku. Aku biarkan melukai diriku dengan pengorbanan yang penuh rahasia hati. Aku yakin ‘kan ada cinta yang bisa mengobati lukaku atas pengabdian dan pengorbanankuku teruntuk putri guruku.
***
Hingga datang angin segar yang telah lama dirindukan, kehangatan cinta menyapa menggugah kepercayaan diri pada hati ini bahwa harapan dapat bangkit lagi dan mengerti cerita indah yang selama ini terselip dalam tumpukan luka. Seolah membangunkan simponi hati yang telah lama senyap karena kalah oleh kebisingan jerit lara atas harapan palsu yang dibuat oleh diri sendiri atas cinta dalam diam. Berharap tanpa mengeluarkan isi hati sama saja menghianati diri sendiri, membelenggu diri pada perang batin yang tak kunjung selesai. Kini saatnya terhapus bagai terguyur oleh air surgawi.
Tepat saat wisuda Pondok Pesantren Nurul Ummah Aku mendapat anugrah yang sangat aku syukuri. Acara khataman itu di hadiri oleh bu Nyai, Wali santri dan sebagian alumni pondok pesantren, begitupun Neng Masruroh bersama suaminya Ade Wiguna. Orang yang pernah aku cintai di dalam lubuk hatiku. Tapi aku bangga dengan diriku yang mampu menampar obsesi cinta pada diriku. Aku telah cukup bahagia dengan banyak anugrah yang Tuhan berikan. Aku pulang ke rumah dengan membawa Syahadah dari bu Nyai. Syahadah itu dapat aku gunakan untuk menjadi Ustadzah. Hari-hariku semakin bahagia semenjak aku bisa meneruskan perjuangan ayahku untuk menghidupkan TPQ Raudlatul Jannah. Hingga aku mengenal sosok baru. Ahmat Mujafar yang bisa mengambil hatiku lewat kebaikannya yang tulus. Ia meyakinkanku bahwa cinta milik Allah. Kita milik Allah dan semua dapat terjadi. Banyak yang pacaran bertahun tahun tapi menikah dengan orang lain. Tak selalu warna kelabu yang terjadi atas sebuah kisah cinta. Ia memberiku rasa percaya bahwa ada cinta yang datang setelah 7 tahun aku terluka diatas cinta dalam diam.
***
Komentar
Posting Komentar