Oh Tuhan
Oh Tuhan
Oleh: Dian NM
Malam membawa gadis itu merenung atas semua kejadian yang terjadi. Tanya hati terus menggerogoti pikirannya yang tak henti menjelajahi memori kehidupannya. Akankah selamanya atau ‘kan ada waktu yang menjemputnya ke ruang bahagia. Satu hal pasti ketika masih ada sedikit asa yang menyapa hati dalam kekosongan maka harapan itu tak mustahil tuk mengantarnya menjemput impian.
“Halo, aduh ! kamu telfon aku jam segini, pagi ini aku harus menemui bos ku, aku tidak punya waktu lain sebelum semuanya terlambat” diangkatnya telefon oleh Adelina dari sahabatnya yang belum sempat menyampaikan sepatah kata pada Adelina tentang kabar yang harus ia ketahui.
“Aku sambung nanti saja, aku sudah mau naik motor, sampai ketemu di Sanggar nanti sore, tut tut tut!” telepon diputus oleh Adelina sembari bergegas memakai helm.
Setiba di kantor Adelina langsung memberikan layout yang telah ia lembur semalam suntuk untruk segera diterbitkan.
“Bos, ini pekerjaan saya, semoga bos nggak kecewa dan penulispun puas”. Terucap kalimat itu dari mulut Adelina dengan rasa lega.
“Baik, trerimakasih Adelina. Nanti saya lakukan proofreading.Oh ya, saya ingatkan sekali lagi, persiapkan diri kamu untuk menerima tugas selanjutnya, karena kemungkinan kita akan di Magelang dalam waktu dua minggu ke depan.
Seusai memberikan naskah. Adelina kembali mengambil gadget yang sempat ia campakkan. 34 kali panggilan tak terjawab tertulis Klara sahabatnya. Sontak Adelina bermuka masam, dia membatin apa yang terjadi dengan Klara?. Tak sempat memikirkannya, Adelina langsung meneleponnya balik. Namun tak juga di angkat. Adelina memutuskan untuk datang ke rumah Klara.
Setiba di rumah Klara “ Assalamualaikum. Selamat pagi Ibu!” Sapa Adelina dengan ramah disambung dengan menanyakan keberadaan Klara.
Setelah percakapan Adelina dengan ibu sahabatnya usai. Adelina tak bisa melepas tangis, kabar duka itu membuatnya histeris. Mirisnya lagi ia mendengar kabar itu bukan langsung ditelinganya namun justru orang lain terlebih dahulu yang mengetahui kematian kakaknya.
Sepulang dari rumah Klara, Adelina segera mempacking bajunya ke dalam koper. Rencana keberangkatannya kali ini bukan lagi untuk tugas kerjanya. Ia harus berani melangkah meski penuh dengan rasa isak didada. Keluarga satu-satunya telah pergi meninggalkannya.
“Ayah. Ibu dan sekarang Kakak. Allahu, cobaan apalagi ini. Mengapa Kau ambil semuanya dariku” Jerit hati Adelina. Ia lupa bahwa semua adalah milik Tuhan, tentu akan kembali kepada-Nya.
Tak ada rindu yang lebih menyakitkan dari rindu dengan orang yang telah tiada lagi bersama kita untuk selamanya. Kerinduan yang berkecamuk yang membuat akal dan hatinya terperenjat berfikir bahwa ia kini adalah sebatangkara. Tak ada lagi yang menyaksikan kebahagiannya, Adelina merasa bahwa tak ada lagi singgahsana hati untuk menerima setiap haru, dera, bahagia, prestasi, cinta dan kesemuanya tentang kehidupan Adelina
Kematian yang menurutnya penuh misteri. Tak ada selang waktu satu minggu semua pergi meninggalkannya. Hasil diagnosa tak ada penyakit apapun dari keluarganya terkecuali Ayahnya. Ia berusaha mencari kronologi yang benar. Ia mendatangi polisi untuk mengungkap detik detik akhir yang di alami ayah, ibu dan saudaranya.
Mereka semua waktu itu sedang dalam aktivitas keseharian. Tak ada yang aneh dari keluarga Adelina. Semua aktivitas berjalan dengan baik. Adelina memulai menceritakan semuanya kepada polisi.
“Enam hari lalu mama di rumah bertepatan waktu dengan saya yang sedang tugas di Majalengka. Saya sempat Video Call dengan mama pukul 06:12 WIB dini hari. Ini pak di telefon saya masih ada riwayat panggilannya. Mama tampak sehat dan sempat bilang akan berbelanja properti rumah karena rumah kami baru selesai di renovasi. Namun tepat waktu siang pukul 11:08 WIB, saya mendapat kabar dari ayah tentang kepergian mama. Tanpa sempat menceritakan semuanya Ayah hanya menderu tangis dan panik. Kemudian saya melaju kerumah.
***
Setelah tiga hari kami menggelar pengajian dirumah, tepat setelah sholat isyha Ayah saya pamit keluar untuk membeli stasioner kontak, namun tak kunjung pulang hingga pukul 11 malam. HP Ayah tak dapat dihubungi. Ternyata setelah mendengar dering telefon yang bersumber dari kamar ayah ternyata HP Ayah tidak di bawa. Tiba tiba dari arah pintu terdengar suara ketukan keras dan keramaian orang Pak”.
“Waktu itu…” Ujar Adelina sembari melanjutkan ceritanyaq pada pak Polisi:
“Mbak, mbak, buka pintunya mbak, Pak Heru tidak sadarkan diri!”. Teriak salah satu warga yang membuat seisi rumah panik dan berlari membuka pintu.
Setelah selang beberapa menit ayah tak kunjung sadar, kemudian Ayah dibawa ke Rumah sakit. Setelah mendapat penanganan. Hasil keluar dan memberikan kenyataan pahit lagi untuk Adelina. Ayahnya tak terselamatkan.
Dua hari berlalu rasa berkabung masih meneyelimuti keluarga Adelina. Namun Kakaknya, Roki, berpamit pada Adelina untuk segera berangkat tugas ke perbatasan Brunai Darussalam. Haru isak tangis tak dapat dibendung sembari memluk erat kakaknya yang harus kembali mengabdi kepada Negara.
Perjalanan yang dilakukan Roki cukup singkat, dari Bogor menuju perbatasan hanya membutuhkan waktu 45 menit, 2 jam selebihnya karena lama mengantri di bandara.
Waktu menunjukan 20:23 WIB Roki menaruh koper nya di atas lemari kamar batalionnya. Kemudian membereskan tempat tidurnya. Roki terngiang dengan perbincangan dengan laki laki bijak yang ia temui di pesawat. Lelaki itu berbicara padanya bahwa rumput seluas apapun jika saatnya habis dimakan oleh domba-domba ternak maka akan ada saatnya habis dan menjadi padang tanah yang ditumbuhi rumput baru.
Waktu di perbatasan menunjukan 22:00. Tampak Roki tertidur pulas karena lelah. Tak lama kemudian terdengar suara hentakan kaki dari arah luar pintu diluar sepengetahuan Roki. Kemudian langkah itu mengahiri nyawa Roki dengan sebilah pisau. Ada benarnya rumput itu akan mati karena ada srigala berselimut domba yang mau membunuhnya.
Kabar ini sampai di telinga Adelina yang disampaikan oleh Ibu sahabatnya, Klara. Cerita ini sungguh pahit diingat. Dari semua cerita yang Adelina ungkapkan ke polisi. Tindak polisi segera diproses.
Kerja tangkas yang dilakukan polisi membuahkan kenyataan yang sangat miris lagi terdengar oleh Adelina. Misteri kematian ketiga orang yang Adelina sayangi terungkap.
Mulai dari cerita kematian ibunya yang tergeletak di taman rumah ketika hendak menaruh properti berbentuk vas bunga yang tinggal kepingan keramik dari pecahan vas bunga yang tertancap di perut ibunya. Terdapat sidik jari seorang laki laki yang sama pada sidik jari pisau yang digunakan untuk menusuk kakaknya. Kemudian kematian ayahnya yang terungkap setelah hasil laboiratorium menyatakan positve bahwa pak Heru teracuni oleh sejenis obat hama mematikan. Kenyataan mengungkap bahwa sebelum Pak Heru sampai ke rumah ia sempat mengkonsumsi sesuatu yang memungkinkan racun itu masuk dalam tubuhnya. Kemudian Pak Dito yang tak lain ialah ayah Klara, memberikan kesaksian bahwa pak Heru sempat mampir ke rumahnya sembari membawa stasioner kontak yang ada didalam kresek untuk sekedar berbincang, kemudian pak Heru meminum teh yang disuguhkan.
Kecurigaan polisi terus berlanjut, “Jika teh itu sempat pak Heru konsumsi, ada kemungkinan racun itu ada di dalam teh itu, maka kita dapat menanyakan hal ini pada yang menuang teh” ucap Pak Polisi. Penyelidikan semakin mendakat usai.
Tiba Klara menjemput ayahnya ke kapolsek atas perintah ibunya. Kemudian Pak Dito menanyakan hal yang terlalu sulit untuk ia ungkapkan pada anaknya dan berharap prasangka pak Dito pada anaknya tidaklah benar. Namun hanya itu satu-satunya cara untuk menyelesaikan penyelidikan.
Kuasa Tuhan berbicara, Klara mengungkapkan semua ketakutan yang membuat hidupnya merasa menjadi manusia paling bodoh dan paling bersalah di dunia ini.
“Saya yang mendalangi pembunuhan berantai ini. Saya suruh Pak Sukti untuk membunuh Ibu dan Kakak Adelina” Ucap Klara dengan deras air mata penyesalan yang sangat sulit terampuni.
Semua yang di lakukan Klara semata karena rasa iri pada sahabatnya. Klara ingin membuat hancur kehidupan Adelina, karena Klara merasa sangat tidak beruntung jika berdekatan dengan Adelina. Tidak terbesit sedikitpun di pikiran Adelina bahwa yang melakukan ini semua adalah sahabatnya dari kecil karena rasa kecemburuan sosial. Klara harus siap menerima akibat perbuatannya dengan menghabiskan sisa usianya di jeruji sel.
Takdir yang begitu pahit harus Adelina lalui. Rasanya harus tergopoh-gopoh untuknya demi mendapat semangat kembali di kehidupannya. Namun itu semua tak membuat Adelina terus larut dalam kesedihan. Ia terus menjalani kehidupannya dengan menumbuhkan semangatnya sendiri lewat kesibukan-kesibukan yang ia tekuni.
Dua tahun kemudian senyum tipis dapat kembali lagi terlihat di bibir merah Adelina bersama kekasihnya yang ia sangat sayangi di pernikahannya.
Bionarasi
Sebut aku Dian, nama lengkapku Dian Nurmawaddah wanita kelahiran Pemalang yang senang sekali mendengarkan celotehan anak. Cerita adalah gambaran impian hati yang tertuang dalam naskah. Kamu dapat mencari naskah itu di koleksi fiksiku di Waddpateku : Dian Chikichik Mbem Mbem. Kamu juga bisa mengunjungi blog ku : www.nurmawaddahdian.blospot.com dan akun IG aku : Spasi_d_publisher. Quote dariku special buat kamu yang membaca ceritaku “Jika hanya dirimu yang mengerti maka tidak perlu orang lain tahu, katakana saja pada Tuhan”
Komentar
Posting Komentar