Delisa-Cermin


Dalam sujudku, kusungkurkan badanku dan ku tempelkan dahi pada selembar kain putih di atas sajadah. Tidak ada suatu hal yang dapat ku katakan selain lantunan doa dan harapan. Entah apa yang harus ku lakukan ketika hanya waktu yang dapat menjawab akhir dari kisah ini.

Delisa, gadis yang selalu ku impikan di setiap malamku. Kini ia terbujur kaku diatas peti. Aku tak lagi bisa berbuat apapun selain mendoakannya.

***


Delisa seorang pelukis wanita yang cantik jelita. Dia senang sekali menyulap kanva menjadi seni ajaib yang menghasilkan emas. Kemahirannya memainkan kuas menghipnotis para penikmat seni.

Dalam dinginnya malam beserta hujan yang menyapa, Delisa tak pernah melewatkan suasana itu tanpa ibunya.

"Ibu, aku datang," ucap Delisa.

"Hm," balas senyum hangat dari ibu Delisa.

"Aku ingin sekali melukis wajah Ibu yang semakin hari semakin cantik," rayu Delisa terhadap Ibunya.

Ibunya tersenyum dan tidak menolak permintaan putri satu-satunya.

Delisa anak yang patuh dan sangat menyayangi orang tuanya. Semenjak ayahandanya pergi ada sedikit perbedaan yang nampak pada dirinya. Kini Delisa menjadi pribadi yang introfert dan pendiam.

Dibalik diamnya ada kisah menarik tentang hidup Delisa yang di sukai oleh seorang pria cupu yang mana itu adalah aku. 

Aku sangat menyayanginya entah sejak kapan, yang jelas sampai sekarang.

Yang ku ingat ketika aku pertama kali berjumpa pada pameran Kilazo di Pekalongan. Ia mencari koin receh untuk memberikan kembalian pada pelanggan lukisannya. Berkat koin receh itu, aku dapat menatap wajahnya dengan dekat dan menangkap bayangan matanya yang begitu indah yang masih selalu ku ingat hingga kini.

Dari setiap torehan tinta yang tertuang dengan lembut di atas kanva aku semakin merasakan perasaannya yang begitu halus dalam menghadapi apa yang didepannya. Hingga aku memberanikan diri menyatakan perasaanku.

Setelah ia mengetahuinya, kini aku dan dia memulai berpikir untuk menyusun masa depan yaitu membuka lembaran baru. Dalam pembicaraan kami. 

" Rozi, sebelum kita menikah ada hal yang ingin aku bicarakan, ini terkait penyakitku," ucap Delisa.

"Kamu mengapa Delisa?" sahut Rozi, "sungguh kamu membuatku khawatir."

Kemudian Delisa mulai menceritakan semua tentang dirinya. Usai bercerita, ketika waktu pulang tiba, Delisa tergeletak dan tidak berdaya. Terlalu banyak darah yang tiba-tiba keluar dari hidungnya. Setelah sampai IGD nyawanya tidak dapat diselamatkan. 

"Delisa!" jerit aku. Hingga detik ini aku tidak bisa melupakannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Shadow

Cerpen-41 Days

Back to blog