Guāng Tián

  Ketika hati mati oleh suatu tragedi. Ketika itu pula kisah ini dimulai. Pergolakan antara diri Tián dan hatinya. Sebenarnya tak ada yang tak mungkin selama kita berusaha. Semua orang mengerti akan hal ini. Namun ketika itu terhalangi oleh suatu hal, dimana itu adalah asa yang tak kunjung jua. Hari demi hari Tián lewati. Orang mengatakan bahwa dia adalah orang yang sangat bodoh. Orang yang sangat tidak bertanggung jawab atas hatinya sendiri. Tián membiarkan dirinya dalam rasanya yang semakin tidak dimengerti. Namun itulah yang memebedakan dirinya di atas deretan wanita tegar di dunia ini. 

Sapaan percikan air terjun yang tak jauh dari rumah Tián tepatnya di pegunungan Emei, Sichuan. Membuat sejuk suasana hatinya yang kian semangat bergegas menuju tempat kerjanya.

“Zăoshang hăo (selamat pagi! Kamu mau kemana?” sapa Huā tetangganya . 

“Biasa, aku akan pergi ke tempat kerja. “ jawab Tián.

“Apa kau tidak datang ke acara pernikahan kakak Guāng?” tanya Huā.

“Zuò shénme de (buat apa). Siapa aku. Hahahaha kau ini meledeku dengan hal yang mustahil. Aku dan dia jelas tak mungkin dekat.” Jelas Tián.

“Terserah kamu saja. Aku hanya mengingatkanmu karena berkali kali Guāng menanyakanmu padaku. Dan satu lagi ini bunga darinya untukmu.” Huā menyampaikan pesan Guāng kepada Tián.

Hari hari ia lalui dengan bekerja tanpa putus asa. Keadaan yang memaksanya harus bekerja di usia sebaya teman temannya yang masih mengenyam pendidikan ditingkat yang setara dengan pendidikan di Indonesia adalah bangku SMA. 

Sepulang bekerja, tak lupa ia membelikan uang receh yang dipegangnya untuk sekedar membeli Nian Gao (Kue keranjang). Kemudian menuju ke minimarket untuk membeli bahan bahan dapur. Sepulang berbelanja ia bergegas menuju rumah. Dari pagi hingga sore tak berjumpa Adik satu satunya ia sangat merindukannya karena tidak ada lagi keluarga selain adiknya. Semenjak bencana Gempa yang mengguncang kota Sichuan (2008). Tián ditinggal oleh Ayah, Ibu dan ketiga Kakaknya ke Nirwana Tuhan. Smenjak itulah Ia harus belajar mandiri mengurus diri dan adiknya.

“Tilililit. Telefon berbunyi ketika Tián dan adiknya sedang menyantap Huoguo (Makanan khas musim dingin di Cina). Tián bergegas mengangkat telefon

“Hello, Wăn’ān, Hé shéi yīqĭ (halo, selamat malam, dengan siapa ini)” 

“Wăn’ān Xiăojiě (Selamat malam Nona). Apakah Kau tidak mengenali suaraku?”Jawab Guāng.

“Ada apa kau meneleponku malam-malam?” Jawab Tián dengan ketus.

“Xiăojiě (Nona), bisakah kau menyapaku dengan lembut. Aku ini bukan Tang Xuanzong yang mencintai Yang Yuhuan hingga lalai akan tugasnya sehingga terjadi Pemberontakan An. Aku ini pemuda baik yang tak akan membuat negeri ini terjadi keributan. Aku sangat mengagumimu. Tak ada laki-laki sejentel aku yang berani mengungkapkan isi hati tanpa basa-basi. Kau ingat pujangga sewaktu sore kau jumpai tiap hari sepulang kau bekerja? Dia kuhadirkan untukmu karena aku tak pandai merangkai kata tuk mengutarakan isi hatiku padamu” ucap Guāng dengan panjang lebar.

“tut tut tut” Telepon di putus oleh Tián. Karena baginya bualan pemuda itu hanya menghabiskan waktu. Baginya laki laki yang hanya bisa membual adalah sampah dihatinya. Asam garam liku kehidupannya membuat hatinya keras pada dirinya sendiri hingga pesona cinta tak terhiraukan.

***

“Nĭ Hăo Xiăojiě (Hai Nona) , Mau kemana kau. Maukah kau ku antar?” Guāng menawarkan jasa gratis pada Tián.

“Bù, Xiè xiè.Tolak Tián dan bergegas menghentakkan langkahnya semakin cepat.

Setiap hari Guāng menawarkan boncengannya pada Tián, namun selalu tak dihiraukan.

***

“Ting tong… Duìbùqĭ (permisi). Apakah Tián ada?, tolong panggilkan kakakmu!”

“Jiějiě (kakak)… ada Guāng mencarimu (teriak Syihen pada kakaknya yang sedang memasak didapur). Qĭng jìn Guāng (silahkan masuk)!”

Tak lama Tián datang. “Ada apa kau kemari?”

“Aku hanya ingin mengantarkan Mapo Tufu (makanan khas Sichuan) untukmu. Ku harap kau menerimanya.”

“Xie xie (terimakasih), tak usah kau repotkan dirimu hanya untuk mengantarkan makanan untuku.” (Sembari meletakkan mapo tofu ke piring kucing milik Huā)

Hati Guāng semakin treriris melihat sikap Tián yang semakin hari semakin ketus padanya. Berbagai usaha telah dilakukan oleh Guāng untuk mendekati Tián. Namun itu semua tak berhasil. Tián tak sedikitpun menunjukkan harapan pada Guāng. Entah perasaan yang bagaimana yang dimiliki oleh Tián sehingga bersikap dingin pada Guāng. Namun Guāng tak menyerah.

Guāng sosok laki-laki yang sangat baik dan perhatian. Dia begitu lembut dalam bersikap kepada semua orang. Ia tak semena mena meski ia keturunan Bangsawan. Perangainya yang baik membuat orang banyak mengenalnya, dan sosoknya yang penyabar serta bijaksana membuat simpatik para pemuda sebayanya. Pesonanya yang tampan banyak dikagumi oleh gadis gadis cantik di pegunungan Emei, namun hanya Tián yang mampu meluluhkan hati Guāng.

***

Pada saat Huā menikmati indahnya salju dari arah bukit di balik jendela yang menemani waktu sarapannya, tiba tiba 

“Ting tong. Duìbùqĭ, Nona, Saya dari pihak Rumah sakit, datang kemari ingin menyampaikan surat dari Guāng untuk kau serahkan pada Tián. Semasa ia sehat, ia sempat menuliskan surat ini dan menitipkannya kepada ibundanya agar dapat memberikannya pada Tián. Krmudian Ibundanya meminta tolong padaku agar sampai ke tangan Tián. Keadaanya sekarang sedang melawan kritis di ruang ICU. Ku harap kau beritahukan segera kepada Tián.” ujar pegawai rumah sakit dengan to the poin pada Huā.

Usai mendapat kabar Huā langsung menyerahkan surat itu kepada Tián setiba pulang dari tempat kerja. Huā menceritakan semua yang terjadi pada Guāng. Hasil diagnosis Guāng menderita fahr disease (penyakit otak yang menyebabkan kelumpuhan pada anggota tubuh). 

***

“Guāng…” jerit lirih dalam hati Tián dan mata yang tak bisa membendung tangis mendengar kabar tentang Guāng. Kemudian Tián bergegas ke rumah sakit dan menemani Guāng.

Setiap hari Tián datang untuk menemani Guāng dan merawatnya dengan sangat tulus. Sudah tujuh hari Guāng belum sadar. Hingga dimalam ke tujuh itu tiba tiba Guāng mengelus rambut Tián, dan Tiánpun terbangun. 

“Tián…” panggil lirih Guāng.

“Guāng… akhirnya kau siuman. Aku sangat menghawatirkanmu. Aku sangat mencintaimu, Apapun keadaanmu sekarang.” Tián langsung menyontakan pelukan kepada Guāng. Guāng telah menemukan pemenang hatinya. Hingga mereka bahagia karena dapat bersama. 

*selesai*


Tunggu cerita selanjutnya yaaa...

Terimakasih telah setia membaca

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Shadow

Cerpen-41 Days

Back to blog